Okay, postingan kali ini tentang Doraemon : Stand By Me 2.


Pertama : Hal logis yang terlupakan.


Setiap film pasti ada beberapa hal logis yang terlupakan. Itu yang saya amati selama ini. Tak terkecuali film ini. Namun nggak banyak yang nyadar apalagi kalau udah seneng ama filmnya. Percaya deh.


Wajar saja. Saya yg cuma buat video durasi 5 menit aja kadang melupakan hal hal penting. Apalagi ini yang durasinya lebih dari 85 menitan dan proses produksi yang berbulan bulan. Banyak yang dipikirin wahai tuan dan nyonya. Pasti ada yang kelupaan.


Lalu apa hal logis yang terlupakan dalam film ini? Sebenarnya udah keliatan pas sekuel pertamanya keluar. Dan saya bela belain nonton sekuel kedua ini buat mengkonfirmasi.


Ada yang udah tau apaan?


Nggak tau kan. Ngaku aja.


Jawabannya adalah : Lompatan Waktu Latar Cerita! (Saya saat ini berusaha untuk nggak menggunakan bahasa campuran Inggris lagi, jadi semoga bisa dimengerti, haha).


Jadi gini, 


Cerita Doraemon ini kan pada saat Nobita sekolah SD kan? Nah, udah terbayang latar belakang waktu SDnya Nobita. Kira - kira tahun 90an lah ya, tapi kalau mau mudaan dikit, tahun 2000an deh kita contohkan.


Inget nggak sih waktu di sekuel pertama Stand By Me 1, mas Boy sama Emon, eh mas Nob sama Emon pergi ke masa depan buat mastiin kalau mas Nob dewasa menikah dengan mbak Sizuka dewasa.


Masih ingat dong, pas mas Nob sama Emon di masa depan tersebut. Dunia udah berubah, mobil terbang, gedung, robot, transportasi, bahkan mas Nob dewasa udah pake skuter terbang yang mirip bajaj itu. Tapi yang ramah lingkungan dong ya pastinya.


Sekarang masuk ke hal yang agak nggak logisnya. Ini ni, jaman mas Nob masih SD. Trus jaman mas Nob dewasa mau nikah di masa depan. Berapa tahun sih jaraknya? Paling 20 sampai 25 tahun. Karena mas Nob dewasa keliatan muda banget.


Apakah dalam 25 tahun dunia udah bisa berubah seperti itu? Kalau Nobita kecil hidup di tahun 1990 berarti baru tahun 2015. Kalau tahun 2000 berarti baru tahun 2025. Abis pemilu Indonesia dong. Dodol!


Kayaknya sih agak sedikit nggak masuk di nalar. Harusnya jarak waktunya itu seratus tahun lah minimal untuk perubahan yang sebesar itu. Biar kerasa bener masa depannya secara haqul yakin. Ya kan? Yaelah, ada ada aja lu.


Ya bisa aja sih, namanya juga cerita fiksi. Walaupun agak aneh aja karena nyangkut di umur Nobita dan latar belakang kecilnya. Kalau doraemon sih masih bisa ditolerir karena dia diklaim berasal dari abad 21 yang berarti tahun 2100an masehi.


Sebenarnya sah sah aja sih. Toh nggak ada yang nyadar. Sayanya aja yang terlalu berat mikirnya. Harusnya film itu dinikmati, bukannya dipikirin kan. Ya tho.


Kenapa ya saya jadi julid begini. Ini kayaknya gara gara nonton film Hapalan Surat Delisa di bioskop bareng teman teman jaman dulu kala. Kalau nggak salah pilihannya film itu atau film hantu gitu sih. Karena kami anak soleh solehah makanya pilih nonton Hapalan Surat Delisa. (Padahal pada takut nonton hantu hantu). Sok pada nggak ngaku.


Jadi ada hal yang membuat saya kepikiran terus adalah adegan pas Guru ngaji Delisa datang nemuin ayahnya Delisa pasca tsunami. Sehat wal'afiat nggak kenapa kenapa. Kayak habis pulang liburan dari mana gitu.


Lha kan kejadian tsunaminya pas setoran hapalan surat dan dia guru ngajinya disitu juga.


Ini kok kayak dia baru pulang dari haji dan baru ngasih tau kalau ada tsunami. Untung aja dia nggak bagi bagi tasbih ama air zam zam pas scene itu.


Di dalam bioskop aja kami udah uring uringan bahas si guru ngaji tersebut. Kemanakah dia pergi sebenarnya. Ngapain? Sama siapa? Sampai pada kesimpulan bahwa kasus ini ditutup tanpa ada pencerahan sedikit pun.


Semenjak itu saya jadi terlalu kritis terhadap film yang saya tonton. Dan emang iya sih, dalam setiap film pasti ada hal logis yang kadang terlewatkan. Ada yang minor, ada yang fatal kayak si guru ngaji tadi. Haha :D


Ups, malah kepanjangan bahas yang nggak penting. Maaf ya membuat waktu berharga kalian terbuang sia sia membaca tulisan ini. Maapkeun tuan dan nyonya. 


Untuk lanjutan bahasan tentang Stand By Me 2 di postingan berikutnya aja ya. Biar bisa lebih khusyuk bacanya. Nggak kayak yang ini. Nggak jelas.


Jumpa lagi di postingan berikutnya :)





Selamat Ulang Tahun Mbak Lin!


Nama lengkapnya adalah Mbak Linda, tapi saya seringnya manggil beliau dengan sebutan Mbak Lin. Ia adalah Supply Chain Manager tempat lama saya bekerja. Seorang yang baik hati, lemah lembut dan tangguh!.


Tangguhnya pakai tanda seru!


Tangguh ngadepin emosi bule bule di kantor. Walaupun rasanya kayak pengen nangis aja kata beliau, :D. Belum lagi cerita heboh lainnya seperti seminggu lebih ngantor dengan kaki pincang karena jatuh atau yang lebih ekstrem, kena begal malam malam. 


Luar biasa emang mbak satu ini. Semuanya berhasil ia lalui.


Kecuali satu, 


Takut lembur malam - malam di kantor sendirian karena takut sama hantu. XD


Tetap selalu menjadi wanita tangguh mbak! :)



Artwork by:

@greymoonfolks


Date:

23/02/21                                                                                                                                                                                                                                                                                 



Panasnya! 


Tiba tiba ngerasa ingin makan mangga asam. Iya beneran, hidung seperti mambaui aroma mangga yang asam. Kayaknya enak banget makan itu. Ngidam apa ya?


Saya baru balik ke Batam dua hari yang lalu. Dan sepertinya Batam dan sekitarnya lagi musim panas. Bener aja siang gini panasnya kayak di neraka lantai 2.


Sudah lebih dari sebulan ini tidak ada hujan. Angin kencang bertiup dari segala arah. Sampai sampai saya mabuk laut waktu perjalanan pulang. Arus dari Laut Cina Selatan a.k.a Laut Natuna Utara, bisa membuat oleng kapal Roll On Roll Off yang saya tumpangi saat itu. Padahal kapal udah segede gaban.


Sebagai informasi, ada fakta menarik dari hasil penilitian saya yang nggak ilmiah sama sekali. Kami, di negeri kepulauan kecil yang langsung berbatasan dengan Singapore dan Malaysia ini, merasakan perubahan cuaca terlebih dahulu dari seluruh wilayah Indonesia.


Contoh. Saat wilayah lain di Indonesia masih kering, kami sudah duluan di serang hujan ekstrem di desember akhir dan Januari awal tahun ini. Dua minggu hujan terus membasahi wilayah ini sampai banjir dimana mana.


Jangankan Batam, Tanjungpinang dan Singapore aja sampai banjir. Hujan turun bisa tanpa jeda, 24 jam bahkan lebih. Turun terus menerus. Baru kali ini sih kejadian seperti itu.


Kemudian saat kami di sini musim panas. Kering dimana mana. Eh malah gantian wilayah Jakarta, Kalimantan, Jawa Tengah, Jawa Barat yang lagi hujan ekstrem dan banjir.


Dan ini bukan sekali dua kali. Saya mengamatinya sudah beberapa tahun belakangan. Dan ketemu pola yang sama. Nanti saat kami sudah mulai turun hujan, gantian wilayah Indonesia lainnya mulai musim panasnya.


Sekali lagi ini bukan penelitian ilmiah yah, cuma sekedar pengamatan.


Perubahan Iklim dan Dampaknya.


Hal yang saya rasakan di musim panas kali ini sedikit berbeda. Biasanya karena kami pulau kecil yang dikelilingi laut, kalau musim panas ya biasa angin yang bertiup panas bahkan kering. Dan berlangsung juga pada malam hari.


Maksudnya malam hari juga panas.


Namun kali ini berbeda. Anginnya berhembus dingin dan cenderung lembab. Jadi siang hari panas terik tapi anginnya sejuk, malam hari jadi dingin.


Udah serasa kayak cuaca di padang pasir gitu. Beneran dah. Bedanya cuma derajat celciusnya aja yang nggak ekstrem kayak di Timur Tengah sana.


Buat kami yang wilayahnya kecil ini dampak perubahan iklim sangat terasa.


Jika hujan tidak normal (ekstrem) terjadi seperti tahun baru kemarin, palingan banjir di beberapa titik. Bukan salah hujannya sih, salah manusianya juga.


Kerakusan perubahan lahan yang tak lagi memperhatikan keseimbangan alam. Pembangunan infrastruktur dan drainase yang tidak siap menghadapi cuaca ektrem 20 sampai 50 tahun ke depan.


Jangankan 50 tahun, 5 tahun perubahan iklim udah seperti apa, teknologi pengantisipasinya nggak bisa ngikutin. Ya kebobolan terus jadinya.


Namun banjir ya banjir. Paling sehari, tiga hari pada surut sendiri. Nggak pake pompa pompa segala kayak di Jakarta. 


Jika musim kering, PDAM akan mulai menjatah air buat warga. Sebagai wilayah yang kecil, kami mengandalkan 2 waduk utama untuk kebutuhan air bersih bagi sekitar 1,5 juta warganya. 


Dari mana air itu berasal? Ya dari air hujan lah. Sama seperti Singapore yang mengandalkan sistem tadah hujan dengan membangun waduk waduk sebagai sumber air bersih. Kami sangat bergantung pada hujan.


Tidak hujan selama sebulan aja udah kerasa air mulai jadi sedikit. Apalagi sampai 3 bulan. Opsi hujan buatan pun harus diambil. Walaupun saya jarang ngeliat helikopter atau pesawat wara wiri melakukan proses ini supaya bisa turun hujan.


Lupakan teknologi pengubahan air laut menjadi air tawar. Singapore aja mungkin memakainya sebagai opsi terakhir. Biayanya yang besar dan tidak sebanding dengan kebutuhan warganya.


Satu satunya opsi yang sering dilakukan disini adalah Sholat Istisqa', yaitu sholat hajat minta hujan diturunkan.


Ini solusi paling affordable dan mengetuk pintu langit.


Mau gimana lagi.


Karena kita nggak punya kuasa apapun selain kuasa yang di Atas.




Masih liburan di rumah ibu saya. 


Emangnya kamu orang cina, liburan pas tahun baru cina? Ya bisa jadi sih. Dua tahun lalu, saat saya liburan ke KL, rupanya disana malah libur panjang pas tahun baru cina. Jadinya tumpah ruah bersama turis lokal sana. Ya nggak ada masalah dong ya.


Tapi bukan hal itu yang mau dibahas. Ada hal yang mengganjal di kepala saya saat ini.


Apakah hidup kita harus sama dengan orang lain?



Saat teman sebaya mulai meninggalkan saya berkembang biak membangun rumah tangga, semua mata menuju saya yang masih memilih untuk sendiri.


Saat orang lain yang seumuran meraih pencapaian yang gemilang, mereka mulai bertanya apa yang sedang saya lakukan saat ini.


Dan banyak perbandingan lainnya.


Apakah hidup memang cuma sebatas itu? Saya kadang memikirkan, siapakah yang menciptakan standar kehidupan manusia pada awalnya. Yang menjadi patokan bagi setiap orang.


Bisa bicara umur sekian, sekolah selesai umur sekian, bekerja di tempat tertentu, punya ini itu, menikah umur sekian, punya anak, hidup bahagia sampai ajal menjemput.


Bila ada yang tidak sama bakal dicap berbeda, atau bahkan dianggap gagal dalam hidupnya. Padahal tidak semua manusia menjalani hidup yang sempurna.


Lain lagi dengan mereka yang memilih jalan hidup berbeda. Apakah mereka salah?


Sejak kapan kehidupan kita disetir oleh kehidupan sempurna orang lain. Bukan oleh diri kita sendiri sebagai pemilik kehidupan. 


Ada yang ingin berkeliling dunia selama hidupnya, ada yang bertahan pada mimpinya, ada yang teguh memegang prinsipnya, dan ada pula yang tak ingin merisaukan kehidupannya esok hari.


Apakah mereka termasuk orang orang gagal? Ataukah mereka harus rela melepaskan semuanya karena harus mengikuti stigma "hidup sukses" yang selama ini ada.


Jalan hidup kita tak harus selalu sama.



Daripada hidup dalam dunia "hidup sukses" setiap orang, saya lebih cenderung memilih hidup bahagia sebagai diri saya sendiri.


Melakukan hal yang ingin saya lakukan, mensyukuri apa yang saya dapatkan, menjalani kehidupan yang kadang tak sama dengan semua orang.


Walaupun kadang salah arah, pasti ada saatnya kita menyadarinya dan kembali ke jalan yang benar.


Bukankah hidup seperti itu?





Hello, apa kabar? Rasanya seperti baru pulang dari perantauan setelah bertahun tahun. Padahal masih disini sini juga. Menjalani hari yang sama, menghirup udara yang sama tapi di kesibukan yang berbeda. 


Ingat postingan saya sebelumnya, soal permintaan buat video? ya, saya akhirnya mengiyakan permintaan tersebut. Walaupun rasanya sudah kapok di proyek sebelumnya gara - gara laptop hang di detik detik akhir. Namanya juga duit, saya masih susah menahan godaan ini. 


Kenapa 2 minggu belakangan ini saya rasanya menghilang. Nggak ada update blog, nggak mampir ke blog kalian. Ya, karena hal tersebut. Makanya rasanya kangen banget sama kalian, eh dunia blogging maksudnya.


Jangankan buat ngeblog dan blogwalking, acara nikahan saudara saja saya absen karena proyek ini. Lihat kan, saya nggak pilih kasih orangnya. Udah cocok belum jadi calon mantu idaman? Tulis jawaban kalian di kotak komentar di bawah. :P


Ada yang berbeda di proyek kali ini. Biasanya paling lama cuma 4 hari, ini sampai 2 minggu molornya. Revisinya aja sampai 6 kali. Ini yang membuat saya rasanya ingin menangis. Kirain kelar, eh taunya berubah lagi, editing lagi. Gitu aja terus sampai upin ipin masuk SD.


Dan hal yang paling berubah dalam 2 minggu ini adalah pola tidur saya yang kacau balau. Tidur jam 7 malam, kebangun jam 9 malam lanjut editing, tidur lagi jam 2 pagi, bangun jam 4 pagi lanjut editing. Siang hari diisi meeting sama ngambil foto atau video.


Kalau ketiduran jam 9 malem, kebangun jam 12 malem buat lanjutin kerjaan. SAMPE PAGI. Jam 7 pagi tidur, jam 10 udah ditanyain jam berapa mau ke kantor. T_T


Akhirnya, tanggal 1 februari kemarin adalah hari di mana saya mengirimkan video final hasil meeting, shooting, editing, dan revisi selama 2 minggu. Agak lega sih, bisa tidur nyenyak lagi malam ini. Walaupun pasti akan kebangun nggak jelas gegara pola tidur sebelumnya.


Hasilnya? 


Masih ada typo yang harus diperbaiki sama koreksi nama klien. Oh my!


But, overall they like it. Love.. love...! 



Tinggal dikit lagi, cuma benerin typo - typo itu (keliatan banget ngerjainnya pagi buta, haha). Akhirnya bisa ngeblog lagi, eh sorry, nonton deh yang pertama, baru ngeblog, rebah - rebahan. I miss those things so much.


Selamat datang kembali kehidupan!



Image : 

Courtesy Edoardo Flores

I need sleep by @greymoonfolks




"Knock...knckkk. bangun euy. dicariin babe, jam brp bisa ke shapeshell hari ini. urgent." 


Bunyi pesan mbak glow pagi ini pukul 09.06 WIB yang saya jawab 15 menit kemudian. Bukan karena saya baru bangun cuma belakangan ini saya jarang megang hp. *alibi


Pesan ini artinya babe ngajak meeting. Babe (*babe: panggilan bapak bahasa betawi. bukan yang lain) adalah ex-bos saya. Seorang pria warga negara Australia yang lahir di Liverpool setengah abad yang lalu.


Saya belum tau apa yang bakal dibahas di meeting, tapi kayaknya soal buat video lagi. Dan ternyata benar. Dia mau buat video profile buat calon klien yang saya juga nggak tau siapa dan dari mana. Yang pasti deadline video itu mau dipakai adalah jumát depan.


Hal yang paling saya ingat di meeting hari ini adalah saat dia bilang : 


"Do you like making video, aren't you?"

"Grey, I will be so critical this time okay, i want your work get better and better"


Aaah saya jadi lupa kapan saya senang buat video. Seingat saya, saya buat video karena itu kerjaan. bukan karena saya suka buat video, bikin vlog atau suka ngerekam kuda lumping lagi dansa. Saya lebih suka desain grafis, branding dan advertising. Hal yang dari dulu ingin saya lakukan tapi belum kesampaian.


Awalnya karena tidak sengaja


Perihal video - videoan ini dimulai 3 tahun lalu. Saat si owner minta si babe buat bikin video tentang gambaran facility yang ada di Indonesia untuk calon klien di mesir. Kemudian karena melihat sosok pemuda enerjik ramah penurut dan bisa apa saja, disuruhlah saya untuk buat.


Siang ini disuruh, besok jam 9 pagi dikumpul. T_T


Semaleman begadang buat video dan nggak ada ekspetasi apapun, karena beneran nggak tidur dan masih harus lanjutin kerjaan utama juga.


Saya nggak kasih liat preview, langsung kirim ke email babe dan lanjut kerja. 


Kemudian tiba tiba babe datang dan muji hasil begadang saya semalam. Dia bilang owner juga suka. Si owner juga email saya untuk mengapresiasi hasilnya. Hal yang diluar dugaan saya. Sangking terima kasihnya saya diperbolehkan pulang buat istirahat. Mungkin karena keliatan kalau saya tidak tidur semalaman.


Tak hanya sampai disitu. Video itu ditunjukin ke seluruh staff. Di meeting pun di kasih liat. Sampai salah satu staff bilang : "iya sampe tamu datang pun dikasih lihat videonya". 


Dari sanalah awal mula saya buat video buat perusahaan tersebut, sampai sekarang. Walaupun saya sudah tidak di perusahaan itu lagi.


Jangan bayangkan yang indah - indahnya aja. Nggak mudah juga bekerja sama babe termasuk dalam pembuatan video. Only his opinion matters. You can arguee but not win. Makanya kalau sama Manager saya, kami nyebut dia sebagai The King.


Pun dengan deadline pekerjaan yang selalu mepet. Nggak ada itu hitungan minggu, video harus siap dalam hitungan hari. Artinya harus siap bergadang. Biasanya last day babe pun kagak tidur mantau kerjaan saya. Jam 4 pagi pun kadang sudah harus kirim file, karena perbedaan waktu Indo dan Ausi selisih 4 jam.


Saya menyadari kalau kualitas video saya belum masuk kategori bagus versi saya. Masih banyak kurang sana sini. Masih kurang jam terbang. Peralatan yang tidak terlalu memadai. Dan satu lagi, deadline yang singkat. 


Namun dalam dunia pekerjaan, selesai itu lebih baik dari pada ngejar sempurna tapi tidak selesai. 


Upgrade Kemampuan Diri


Babe pernah bilang kalau saya suka sesuatu bisa jadikan itu sebagai hobi yang menghasilkan uang. Walaupun dia kira saya suka dunia fotografi dan videografi. Hal yang sebenarnya tidak terlalu saya sukai. 


Namun dia tetap mendukung saya apapun yang saya lakukan. Menginginkan kemampuan saya bisa terus berkembang. Termasuk kemampuan dalam produksi video ini.


Kadang hal hal ini yang membuat saya malu kalau kemampuan saya begini begini aja. Harus ada peningkatan. Walaupun belum bisa jadi seorang profesional, bagi saya membuat karya yang lebih baik dari sebelumnya adalah sebuah hal yang harus disyukuri.


Semoga terus berkembang.

Malam ini terasa begitu sendu. Waktu pun serasa ikut membeku. Aku benci berada di saat saat seperti ini. Aku benci suara itu. Suaraku sendiri. Bukan karena menyakitkan, namun kejujuran yang tak ingin ku dengar sampai saat ini. Aku yang takut bila ia menjadi.


Aku sudah berlari sejauh ini. Sampai tak terlihat lagi jalan kembali. Apa yang kutemui? Cuma sepi. Dan aku tak bisa kembali.  Aku terjebak di sini. Sendiri.


Pandanganku sudah mulai kabur. Aku tak bisa melihat jelas apa yang ada di depan sana. Kaki ini pun sudah letih berkelana. Letih karena tak tahu lagi harus kemana. 


Kulihat bekal harapanku yang makin menipis. Semakin jauh semakin hilang. Aku merasa tidak pantas lagi memupuk harapan - harapan baru. Karena semua itu terasa semu. Serasa menipu.


Kenapa aku seperti ini. Sungguh aku ingin kembali. Memperbaiki apa yang telah terjadi. Aku ingin bangkit sekali lagi.


Bila kabar ini bisa sampai kepadamu. Pesanku hanya satu. Aku masih disini.


14 Januari 2021




Kamu tau nggak bedanya gula sama kamu? Kalau gula manisnya sementara, kalau kamu manisnya membunuhku. Eaaaa. 


Okay, cukup gombal - gombalnya, ini serius. 


Latar Belakang


Percaya nggak percaya ternyata gula bisa membuat keacanduan. Dan ini terjadi pada diri saya pribadi (I mean literally me, bukan mas pribadi). Ini sebenarnya normal nggak sih?


Sebagai informasi, saya bukan orang yang terlalu suka makanan manis. Cake, roti, permen, coklat, gulali dan apapun itu yang mengandung gula bukan makanan favorit saya. Biasa saja, kadang makan, kadang tidak, banyakan tidaknya.


Saya juga tidak punya riwayat ataupun berpotensi mengidap gula darah yang tinggi, baik diri sendiri maupun keluarga. Nggak ada namanya diet gula ataupun karbo. Everything is normal.


Yang sering saya konsumsi adalah teh. Sehari sekali. Kadang 2 kali. Kadang lebih. Tergantung mood. Kenapa teh? karena saya bukan peminum kopi. Seumur hidup saya hanya minum kopi beberapa kali. Itupun karena disuguhkan, dan cuma cicip cicip. Saya tidak mempunyai ketertarikan terhadap kopi.


Berapa banyak gula yang saya konsumsi dalam segelas teh. Kira - kira 2 sampai 3 sendok teh per mug ukuran standar. Kalau lagi di rumah emak biasanya tiap pagi sudah dibuatin teh yang manisnya pake banget. Kadang saya minum setengah lalu campur air panas sampai penuh lagi. Kadang setengahnya saya buang dulu baru tambah air. My bad. :(


Lalu masalahnya di mana?


Kalau mood saya sedang tidak bagus ataupun lagi ada deadline mendesak harus bergadang, saya bisa menghabiskan 4 cup teh dalam sehari. Saya nggak sadar hal ini menjadi kebiasaan. Saya anggap biasa saja.


Sampai suatu saat saya menemukan tweet untuk meminimalisir konsumsi gula. Intinya untuk kesehatan. Saya pikir okay, i will do it. Nothing to lose.


Ternyata nggak susah amat buat lepas dari kebiasaan teh ini. Saya ganti air putih panas. Di tempat makan pun yang biasa minum teh manis atau es teh manis, saya ganti dengan teh tanpa gula. Pertama - tama emang aneh sih. Kemudian ya biasa aja.


Gini toh rasa teh tanpa gula.


Hal aneh yang terjadi kemudian adalah lidah saya serasa menginginkan sesuatu yang pada awalnya saya kira teh, ternyata yang ia inginkan adalah sesuatu yang manis.


Pada jam - jam tertentu entah bagaimana saya ingin makan sesuatu yang manis. Apapun itu. Dan hal ini terjadi berulang ulang. Malah kadang saya rela pergi ke warung ataupun mini market untuk mencari makanan manis. Sampai sebegitunya.


Kayak kecanduan gitu.


Mungkin beginilah juga yang dirasakan oleh para perokok kali ya. Akhirnya saya bisa merasakan apa yang kalian rasakan bro. *hug


Pada akhirnya saya masih bingung. Apakah ini kecanduan ataukah memang ini yang diminta oleh tubuh. Apakah ini normal ataupun tidak.


Yang saya yakini adalah mengurangi konsumsi gula itu baik.

Still on progress.


Image by:

PETER DAZELEY / GETTY IMAGES