Musim Panas



Panasnya! 


Tiba tiba ngerasa ingin makan mangga asam. Iya beneran, hidung seperti mambaui aroma mangga yang asam. Kayaknya enak banget makan itu. Ngidam apa ya?


Saya baru balik ke Batam dua hari yang lalu. Dan sepertinya Batam dan sekitarnya lagi musim panas. Bener aja siang gini panasnya kayak di neraka lantai 2.


Sudah lebih dari sebulan ini tidak ada hujan. Angin kencang bertiup dari segala arah. Sampai sampai saya mabuk laut waktu perjalanan pulang. Arus dari Laut Cina Selatan a.k.a Laut Natuna Utara, bisa membuat oleng kapal Roll On Roll Off yang saya tumpangi saat itu. Padahal kapal udah segede gaban.


Sebagai informasi, ada fakta menarik dari hasil penilitian saya yang nggak ilmiah sama sekali. Kami, di negeri kepulauan kecil yang langsung berbatasan dengan Singapore dan Malaysia ini, merasakan perubahan cuaca terlebih dahulu dari seluruh wilayah Indonesia.


Contoh. Saat wilayah lain di Indonesia masih kering, kami sudah duluan di serang hujan ekstrem di desember akhir dan Januari awal tahun ini. Dua minggu hujan terus membasahi wilayah ini sampai banjir dimana mana.


Jangankan Batam, Tanjungpinang dan Singapore aja sampai banjir. Hujan turun bisa tanpa jeda, 24 jam bahkan lebih. Turun terus menerus. Baru kali ini sih kejadian seperti itu.


Kemudian saat kami di sini musim panas. Kering dimana mana. Eh malah gantian wilayah Jakarta, Kalimantan, Jawa Tengah, Jawa Barat yang lagi hujan ekstrem dan banjir.


Dan ini bukan sekali dua kali. Saya mengamatinya sudah beberapa tahun belakangan. Dan ketemu pola yang sama. Nanti saat kami sudah mulai turun hujan, gantian wilayah Indonesia lainnya mulai musim panasnya.


Sekali lagi ini bukan penelitian ilmiah yah, cuma sekedar pengamatan.


Perubahan Iklim dan Dampaknya.


Hal yang saya rasakan di musim panas kali ini sedikit berbeda. Biasanya karena kami pulau kecil yang dikelilingi laut, kalau musim panas ya biasa angin yang bertiup panas bahkan kering. Dan berlangsung juga pada malam hari.


Maksudnya malam hari juga panas.


Namun kali ini berbeda. Anginnya berhembus dingin dan cenderung lembab. Jadi siang hari panas terik tapi anginnya sejuk, malam hari jadi dingin.


Udah serasa kayak cuaca di padang pasir gitu. Beneran dah. Bedanya cuma derajat celciusnya aja yang nggak ekstrem kayak di Timur Tengah sana.


Buat kami yang wilayahnya kecil ini dampak perubahan iklim sangat terasa.


Jika hujan tidak normal (ekstrem) terjadi seperti tahun baru kemarin, palingan banjir di beberapa titik. Bukan salah hujannya sih, salah manusianya juga.


Kerakusan perubahan lahan yang tak lagi memperhatikan keseimbangan alam. Pembangunan infrastruktur dan drainase yang tidak siap menghadapi cuaca ektrem 20 sampai 50 tahun ke depan.


Jangankan 50 tahun, 5 tahun perubahan iklim udah seperti apa, teknologi pengantisipasinya nggak bisa ngikutin. Ya kebobolan terus jadinya.


Namun banjir ya banjir. Paling sehari, tiga hari pada surut sendiri. Nggak pake pompa pompa segala kayak di Jakarta. 


Jika musim kering, PDAM akan mulai menjatah air buat warga. Sebagai wilayah yang kecil, kami mengandalkan 2 waduk utama untuk kebutuhan air bersih bagi sekitar 1,5 juta warganya. 


Dari mana air itu berasal? Ya dari air hujan lah. Sama seperti Singapore yang mengandalkan sistem tadah hujan dengan membangun waduk waduk sebagai sumber air bersih. Kami sangat bergantung pada hujan.


Tidak hujan selama sebulan aja udah kerasa air mulai jadi sedikit. Apalagi sampai 3 bulan. Opsi hujan buatan pun harus diambil. Walaupun saya jarang ngeliat helikopter atau pesawat wara wiri melakukan proses ini supaya bisa turun hujan.


Lupakan teknologi pengubahan air laut menjadi air tawar. Singapore aja mungkin memakainya sebagai opsi terakhir. Biayanya yang besar dan tidak sebanding dengan kebutuhan warganya.


Satu satunya opsi yang sering dilakukan disini adalah Sholat Istisqa', yaitu sholat hajat minta hujan diturunkan.


Ini solusi paling affordable dan mengetuk pintu langit.


Mau gimana lagi.


Karena kita nggak punya kuasa apapun selain kuasa yang di Atas.


2 comments:

  1. Iya kebalikan. Ini ujan lagi awet-awetnya dari malam ke malam lagi.

    Mungkin, kurangnya resapan juga jadi banjir dan kekeringan. Di sini misalnya tempat yang dulunya rawa dan empang udah berubah fungsi. Belum lagi kebun2 yang pohonnya bisa nyimpen air saat kering udah jadi pabrik.

    ReplyDelete
  2. Bener kan,
    Disini lagi panas panasnya, di sana lagi hujan hujanan. Hehe.

    Mau gimana lagi. Ribut banjir gini gitu, lha daerah resapannya udah nggak ada lagi, jadi beton semua.

    Lucunya negeri ini. :')

    ReplyDelete

Powered by Blogger.