Hayo, masih hapal nggak Pancasila? Coba sekarang, sebutkan sila ke-4 Pancasila! Beneran masih ingat? Atau mesti ngurutin dari sila pertama d...

Pancasila Dan TWK, Sebuah Dikotomi Baru Indonesia


Hayo, masih hapal nggak Pancasila? Coba sekarang, sebutkan sila ke-4 Pancasila! Beneran masih ingat? Atau mesti ngurutin dari sila pertama dulu? Hehe. Nggak papa, nggak masalah kok, yang penting anda masih mengingatnya.


Harusnya sih postingan ini diupload tanggal 1 kemarin pas Hari Lahir Pancasila namun apa daya baru bisa posting sekarang. Apa lagi dengan hot -hotnya berita 75 pegawai KPK tidak lulus Tes Wawasan Kebangsaan (TWK). Ada garis merah dari kedua hal ini yang bisa saya lihat, yaitu sebagai parameter dikotomi baru di Indonesia


Sejak kapan sih kita meributkan perihal Pancasila? Nggak begitu lama deh, sampai sampai dibentuk Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) yang sampai saat ini saya belum merasakan dampak hasilnya bagi diri saya pribadi. Dan soal TWK ini? ya baru baru ini saja. Apa sebenarnya yang melatarbelakangi hal ini? 


Dari dulu, saya nggak pernah dengar Pancasila selain di sekolahan pas upacara bendera. Setelah kuliah, nggak lagi karena nggak ikut upacara  upacaraan lagi. Udah kulliah sob, bukan anak sekolahan lagi. Namun selama itu, nggak ada tuh yang mempermasalahkan Pancasila. Adem, rukun, hidup tenteram baik baik saja.


Terakhir malah mendengar ribut - ribut orang "Saya Pancasila, saya Indonesia". Saya pada saat itu: 'Emang kenapa? Masalah buat gue?". Hal yang nggak saya tau kenapa rang orang itu jadi kek gitu. Kenapa dengan mereka? Kenapa dengan Pancasila?.


Dan hal yang bikin saya sedikit eneg adalah kenapa ada orang yang mengaku paling Pancasila, dan mencap orang lain tidak. Apa yang membedakannya? Siapa yang menentukan seseorang Pancasilais dan bukan? Siapa yang pemahaman Pancasilanya paling benar dan hakiki di indonesia ini. Padahal Founding Fathers kita membuat Pancasila itu bersama - sama. Bukan satu orang.


Entahlah, makin aneh aja Republik ini. 


Kemudian, perihal Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) pegawai KPK. Disebutkan ada 75 pegawai yang tidak lolos, oleh karena itu tak bisa diangkat menjadi PNS alias didepak dari keanggotaan KPK. Parahnya ada nama Penyidik Senior, Novel Baswedan yang kita semua sudah tau siapa beliau dan satu lagi, Giri Suprapdiono, Direktur KPK yang biasanya memberikan kuliah Wawasan Kebangsaan di KPK dan lembaga lain diluar KPK.


Ini apalagi. 


Orang orang yang telah bertahun tahun mengabdi, bahkan dirinya pun turut menjadi korban akibat tugas negara yang diembannya masih diragukan Wawasan Kebangsaannya, dan bahkan dinyatakan tidak lulus. Wawasan kebangsaan seperti apa lagi yang diinginkan?





Saya juga tidak tau siapa penyusun TWK ini dan tujuannya apa. Apa kriteria yang diinginkan? Harusnya ini cuma sebagai guidlines, bukan sebagai penentu satu - satunya. Wawasan Kebangsaan bukanlah pertanyaan eksak matematika yang 1 + 1 = 2. Tapi soal penalaran yang pasti bisa jadi berbeda tiap orang. 


Implementasi Wawasan Kebangsaan dalam kehidupan sehari - hari yang perlu dilihat seperti kejujuran, keadilan, berpihak pada kebenaran serta mementingkan kepentingan negara diatas kepentingan pribadi dan golongan. Hal inilah yang mewujudkannya menjadi sebuah dedikasi, integritas dan manifestasi kecintaan tanah air dalam menjalankan tugas negara. Bukan perihal tanya jawab semata.


Saya mengkhawatirkan jika Pancasila dan TWK ini cuma sebagai instrumen dikotomi baru di Indonesia. Sebagai pembeda dan menjadi pemecah belah anak bangsa dengan agenda tersembunyi tertentu yang kita tidak ketahui dibelakangnya. Malang betul kita jika ini benar kejadian.


Kami Pancasilais, kalian bukan. 

Kami Indonesia, kalian bukan.


Lalu kita ini siapa?


2 comments:

  1. Berat kali wak postingan engko yang satu ini... Tak paham akutu pembahasannya. -___-"

    ReplyDelete
  2. Lagi no idea soalnya koko.

    ReplyDelete